Desa Tak Teraliri Listrik, Siswa di Pelosok NTT Harus Belajar Pakai Pelita

Desa Tak Teraliri Listrik, Siswa di Pelosok NTT Harus Belajar Pakai Pelita

LABUAN BAJO, KOMPAS.com - Tiga kampung di Desa Watu Manggar, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), belum terjangkau jaringan listrik negara.

Warga di tiga kampung pelosok itu masih mengandalkan lampu pelita untuk penerangan malam hari. Sebagian warga menggunakan generator dan tenaga surya.

Bonefasius Yosdan, warga Desa Watu Manggar, menuturkan sudah sejak lama penduduk desa itu merindukan penerangan listrik negara.

"Desa Watu Manggar ada tiga kampung yakni Kampung Sangka, Londang dan Paurundang. Sampai sekarang belum terjangkau jaringan listrik negara," ungkap Yosdan saat dihubungi Jumat (11/4/2025) siang.

Ia mengaku, untuk penerangan malam, warga mengandalkan lampu pelita yang berbahan bakar minyak tanah. Sebagian warga menggunakan generator berbahan bakar solar.

Belakangan ini, kata dia, minyak tanah cukup sulit didapatkan dan harganya cukup mahal. Sehingga, masyarakat susah mendapatkan bahan bakar minyak tanah untuk menyalakan lampu pelita.

Di tiga kampung itu, kata dia, ada anak-anak sekolah dasar dan juga sekolah menengah pertama. Mereka harus belajar menggunakan lampu pelita.

"Kasihan anak-anak sekolah belajar malam harus pakai lampu pelita. Lampu pelita harus ditaruh depan muka supaya bisa belajar," ungkap Yosdan.

Ia menyebut, karena tidak ada listrik, untuk mengisi baterai barang elektronik seperti handphone dan laptop terpaksa harus menumpang di warga yang memiliki mesin generator.

"Kalau terlalu penuh terminal untuk charger, ya antre saja. Kalau yang lain penuh, bisa gantian," kata dia.

Yosdan membeberkan, jarak dari desa tetangga yang sudah teraliri listrik ke Watu Manggar cukup dekat dan tidak sulit untuk memasang jaringan listrik ke desa itu.

Ia menambahkan, di desa itu ada sekolah dan juga kantor desa butuh jaringan listrik yang memadai.

"Kami sudah dari dulu rindu kehadiran listrik negara ke desa. Semoga Presiden Prabowo dan Menteri ESDM juga PT PLN bisa memperhatikan desa kami," ujar Yosdan.

Dino, seorang siswi SMP di desa itu, mengaku setiap malam belajar mengandalkan lampu pelita. Meskipun tak mendukung, ia tetap semangat untuk belajar demi masa depan yang lebih baik.

Sebagai seorang pelajar, dirinya sangat merindukan kehadiran listrik negara ke desa itu untuk mendukung aktivitas belajar di rumah saat malam hari. Sebab, penerangan salah satu pendukung agar bisa semangat belajar.

"Mohon kepada Pak Presiden Prabowo supaya bisa perhatikan kami di sini. Kami sudah lama rindukan listrik negara," ungkap Dino.

 

Sumber