Kemenangan Kotak Kosong di Bangka Belitung, Apa yang Mendorongnya?
BANGKA, KOMPAS.com – Dosen Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung (UBB) Novendra Hidayat menyebutkan ada tiga faktor yang menyebabkan pasangan calon tunggal kalah.
Pertama, faktor politis. Calon tunggal yang didukung banyak partai politik membuat masyarakat merasa tidak nyaman karena kurangnya pilihan.
"Kurangnya alternatif membuat masyarakat memilih kotak kosong," kata Dayat di Pangkalpinang, Selasa (10/12/2024).
Faktor kedua adalah faktor sosial. Masyarakat semakin sadar akan hak pilih mereka dan tidak ingin memilih calon yang tidak sesuai keinginan.
Gerakan sosial memilih kotak kosong ini didukung oleh berbagai kelompok yang ingin perubahan sistem politik.
Faktor ketiga, kinerja pemerintahan. Kinerja pemerintah lokal turut mempengaruhi keputusan masyarakat. Ini berbeda antara daerah satu dengan daerah lainnya.
Dayat menilai, kemenangan kotak kosong menunjukkan pertarungan sengit antara elit politik dan partai pengusung.
Dominasi partai politik dalam proses kandidasi menimbulkan perlawanan dari elit yang tidak terakomodasi oleh kepentingan pragmatis partai.
Pilkada yang Bersejarah
Pemilihan Wali Kota Pangkalpinang dan Bupati Bangka Induk akan tercatat dalam sejarah politik Pilkada di Kepulauan Bangka Belitung.
"Kemenangan kotak kosong ini menjadi sejarah penting. Ini tamparan keras bagi elit dan partai politik yang gagal meraih kemenangan," ujar Dayat.
Di Kabupaten Bangka, petahana Mulkan-Ramadian hanya meraih 42,75 persen suara, sementara kotak kosong memperoleh 57,25 persen suara.
Di Pangkalpinang, pasangan calon Maulan Aklil-M Hakim juga kalah, dengan kotak kosong meraih 57,98 persen suara.
Di Kabupaten Bangka Selatan, pasangan calon Riza Herdavid-Debby Vita menang melawan kotak kosong.
"Hasil ini menunjukkan realitas demokrasi di akar rumput yang menginginkan suara dan aspirasi mereka didengarkan," kata Dayat.
Evaluasi Aturan Pilkada
Rektor Institut Pahlawan 12 Bangka, Dr. Darol Arkom, mengatakan, 39 daerah di Indonesia melaksanakan pilkada serentak 2024 dengan pasangan calon tunggal.
Dari jumlah itu, dua daerah dimenangkan oleh kotak kosong, yakni Kota Pangkalpinang dan Kabupaten Bangka.
"Kemenangan kotak kosong menjadi simbol partisipasi kritis pemilih dan ekspektasi terhadap calon pemimpin alternatif," ujar Darol.
Darol menilai kemenangan kotak kosong menurunkan kualitas demokrasi. Oleh karena itu, perlu ada evaluasi terhadap peran partai politik.
"Reformasi regulasi pilkada perlu dilakukan untuk membuka calon secara terbuka dan kompetitif," tambahnya.
Fenomena kotak kosong ini menarik perhatian akademisi di Institut Pahlawan 12. Mereka mengadakan Focus Group Discussion (FGD) untuk membahas topik ini pada Selasa (3/12/2024).
Hasil FGD menyarankan penyempurnaan sistem kaderisasi partai politik agar lebih inklusif dan aspiratif.
Akademisi juga mencatat bahwa partisipasi masyarakat dalam Pilkada 2024 lebih rendah dibandingkan Pemilu Februari 2024, dengan suara tidak sah yang cukup tinggi.
"FGD ini merupakan komitmen institusi pendidikan tinggi untuk mengatasi isu-isu penting di bidang sosial politik," kata Darol.