Muara Sungai Penuh Sampah dan Bangkai, Warga Polewali Mandar Resah

POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com – Puluhan ton sampah bercampur bangkai hewan memenuhi muara sungai dan saluran irigasi pertanian di Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.
Kondisi ini dikeluhkan warga karena menimbulkan pencemaran lingkungan dan aroma busuk yang menyengat.
Pasca-Ramadan dan libur Lebaran Idul Fitri 1446 H, warga melaporkan penumpukan sampah yang dibuang secara sembarangan ke aliran sungai.
Sampah-sampah tersebut menumpuk di muara sungai dan saluran irigasi sepanjang dua kilometer di Desa Kebunsari, Wonomulyo. Penampakan sampah tersebut mengular seperti kereta api.
Sebagian besar sampah berasal dari limbah rumah tangga dan kiriman dari aktivitas pedagang di Pasar Wonomulyo.
Saat hujan turun dan terjadi banjir, sampah terbawa arus hingga menyumbat saluran irigasi persawahan warga.
Jenis sampah yang ditemukan mencakup plastik, styrofoam, popok bayi, kaleng, dan sampah rumah tangga lainnya.
Tak hanya mencemari lingkungan, bau menyengat dari tumpukan sampah dan bangkai hewan juga mengganggu kenyamanan warga.
Syarifuddin, salah satu warga Desa Kebunsari, menjelaskan bahwa warga terpaksa membuka pintu saluran irigasi agar sampah yang membusuk tidak meluap ke pemukiman mereka.
“Karena terus menumpuk dan membusuk, warga yang tidak tahan terpaksa membuka pintu-pintu irigasi agar sampah tersebut mengalir dan tidak menumpuk di sekitar pemukiman atau lahan mereka karena aroma bau busuk yang menyengat dan mengganggu warga,” jelas Syarifuddin, Jumat (11/4/2025).
Bupati Polewali Mandar, Haji Samsul Mahmud, menyampaikan bahwa tumpukan sampah ini merupakan akibat dari kebiasaan warga yang membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai.
Ia menugaskan aparat kecamatan dan kelurahan untuk melakukan edukasi langsung ke masyarakat.
“Kita telah mengimbau warga agar tidak lagi membuang sampah sembarangan termasuk di sungai karena ini menjadi sumber pencemaran yang merugikan kita semua. Saya berharap semua aparat kecamatan dan kelurahan atau desa turut langsung ke masyarakat untuk melakukan edukasi agar masyarakat sadar lingkungan,” jelas bupati.
Warga menilai persoalan ini diperparah oleh ketiadaan tempat pembuangan sampah (TPS) yang memadai.
Salah satu TPS di Desa Paku, Kecamatan Binuang, bahkan masih ditutup paksa oleh warga karena dinilai menjadi sumber pencemaran akibat pengelolaan yang tidak sesuai standar keselamatan lingkungan.
Warga berharap pemerintah segera menyediakan tempat pembuangan akhir (TPA) yang dikelola secara profesional, agar sampah tidak lagi dibuang ke sungai atau saluran irigasi yang berdekatan dengan lahan pertanian.



