Strategi Prabowo Atasi Tarif Trump: Negosiasi dan Cari Pasar Baru

Strategi Prabowo Atasi Tarif Trump: Negosiasi dan Cari Pasar Baru

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Tiga hari pasca Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan tarif impor untuk Indonesia sebesar 32 persen, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan langkah-langkah dalam menyikapi kebijakan tersebut.

Di hadapan enam pemimpin redaksi media yang diundangnya ke Padepokan Garuda Yaksa, Kabupaten Bogor, pada Minggu (6/4/2025), Prabowo mengatakan bahwa dirinya mengutus Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto untuk terbang ke AS untuk menegosiasikan tarif impor itu.

Selain itu, bagaimana sikap Prabowo dalam menyikapi tarif impor Trump sebesar 32 persen untuk Indonesia. Simak petikan wawancaranya berikut ini

Apa langkah-langkah mengatasi persoalan tarif impor Trump?

Masalah Trump ini, kita harus lihat nanti, mungkin kita akan mengalami dampak yang berat. Mungkin terutama yang bisa kena (dampak) adalah industri tekstil, sepatu, garmen, dan furnitur. Ini berat karena ini padat karya.

Tapi kita akan cari jalan keluar, kita harus berani mencari pasar baru. Kita ini terlalu manja juga, sih ya. Kita, tuh, selama ini tertarik oleh ekonomi Amerika. Benar? Karena ini, kan, sistem ekonomi yang Amerika ajarkan kepada kita, ya kan. Free market, boleh enggak. Globalization, iya kan. There are no borders. Mereka ajarkan kita-kita. Kita murid yang setia.

We follow what they teach us, all the time. The ’60s, the ’70s, the ’80s, the ’90s, ‘98, ‘99, kita ikut. Paling setia, paling loyal. Sekarang kita harus bangun, kita harus dewasa. Dan tidak hanya kita, Eropa, negara ASEAN, semua, Australia, semua.

AFP/BRENDAN SMIALOWSKI Presiden Amerika Serikat Donald Trump membawa daftar negara yang dikenakan tarif impor dalam acara di Rose Garden bertajuk Make America Wealthy Again, di Gedung Putih, Washington DC, 2 April 2025.

Oh, kalau begitu, sekarang situasi berubah dan memang benar situasi berubah. Dan itu yang saya sudah ingatkan bertahun-tahun. Tolong, tolong buka rekam digital saya, rekam jejak saya. Saya sudah ingatkan, "Saudara-saudara sekalian, Indonesia harus berdiri di atas kaki kita sendiri". Tapi orang bilang, "Oh, retorika".

Tidak (beretorika), saya dari dulu memperjuangkan, saya sudah sadar, saya sudah mengerti bahwa suatu saat, nobody is going to help us, tidak ada yang akan bantu kita, kecuali diri kita sendiri. Dan ini realitas. Tidak ada yang bantu India, tidak akan ada yang bantu Vietnam, tidak akan. Setiap negara harus mengurus dirinya sendiri.

Tapi, banyak orang mengatakan juga bahwa Amerika memaksa semua negara untuk cari pilihan lain. Kanada sudah mengatakan, Anda baca, Anda dengar pidatonya Perdana Menteri Kanada, "Kalau Amerika tidak mau memimpin, Kanada akan memimpin." Bayangkan.

Bayangkan Kanada nanti sama Eropa Barat (yang memimpin). Saya akan berangkat juga ke Eropa, awal Mei. Saya akan ketemu Perdana Menteri (Malaysia) Anwar (Ibrahim), nanti (Minggu) sore. Kita koordinasi.

KOMPAS.com/Dian Erika Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keterangan pers soal tindak lanjut pemerintah Indonesia terhadap penerapan tarif timbal balik Amerika Serikat (AS) di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (7/4/2025).

Kemarin Menko Perekonomian Pak Airlangga dari Kuala Lumpur (untuk) koordinasi. Nanti menteri-menteri ASEAN juga akan koordinasi. Dan kita terus hubungan, negosiasi. Saya akan kirim Pak Airlangga ke Washington. Kita sudah punya kontak dengan tokoh-tokoh di Washington. Kita akan diskusi. Ya, Kita akan negosiasi.

Tapi, satu hal yang ingin saya sampaikan. Amerika sebenarnya punya hak, karena dia ingin membela kepentingan nasional dia, iya kan. Bayangkan negara-negara lain punya surplus 300 miliar dollar AS, 200 miliar dollar AS, 100 miliar dollar AS. Benar enggak? Kita ini termasuk surplus yang tidak terlalu besar, 18 miliar dollar AS.

Tapi, maksud saya juga, pengusaha-pengusaha kita juga harus-istilahnya-punya long term planning dan tidak tergantung pada satu pasar yang enak. Kita harus berani.

Kenapa kita tidak ke Afrika? Afrika itu the new emerging market of the world, Afrika loh. Jumlah penduduknya besar. Resources-nya banyak. Kebutuhannya banyak.

Ada pengusaha-pengusaha kita yang berani ke Afrika, bener nggak. Salim Group, dia di mana-mana di Afrika itu. Mereka sekarang hobinya makan Indomie. Dan mereka kira Indomie itu makanan mereka. Ada di Nigeria, di Turki, di Mesir. Jadi, we have to look for new market (kita harus mencari pasar baru).

 

 

Yang kita concern hanya garmen, sepatu, ya kan itu dua yang concern tadi. Tapi, nah ini bagian, makanya masalahnya adalah kita harus berani dan saya bertekad untuk mengurangi kemiskinan. Jadi kalau orang miskin kita keluarkan dari kemiskinan, dia punya resources, dia punya uang, domestic market kita hidup

(Populasi) kita 300 juta jiwa, lho, sebentar lagi, kita sebesar Amerika. Jadi, nanti sepatunya kita jual saja di antara kita.

Ini nanti saya harus kumpul dengan tokoh-tokoh industri. Kita bicara, kita cari jalan keluar dan kita berusaha memitigasi kesulitan yang akan ditimbulkan (akibat kebijakan tarif resiprokal AS). Dan, kesulitan ini akan kena seluruh dunia.

Tapi ini, ya, sekarang terjadi apa? Shifting. Orang lagi cari teman, ya kan, cari kawan. Kita juga bingung sebetulnya. Tapi dalam arti, kita mengerti bahwa mereka concern bahwa ekonomi mereka tidak produktif. Dia (Amerika) masih kuasai teknologi. Tapi di bidang lain, bidang mobil. Mereka sudah bisa kalah jauh mungkin dengan China.

Iya, kan? Elektronik, telepon. Iya, kan? Kita sekarang siapa yang pakai telepon buatan Amerika, mungkin, ya? Apple masih. Teknologi dia masih unggul. Jadi, ini nanti ada equilibrium baru, ya.

Saya sendiri juga sangat prihatin. Tapi, ya, ini fakta yang dihadapi seluruh dunia. Hanya saya percaya tadi basic kita kuat. Whatever happens, saya kira kita survive. Apa (saja krisis) yang sudah pernah kita survive. Krisis-krisis berkali-kali. (Tahun) ’68, ’98, 2008. (Krisis akibat) Covid, ya, kita hadapi. Dan kita bisa atasi.

Tapi, kuncinya kalau ada kerukunan. Jadi, saya juga prihatin. Saya juga mau dialog. Saya mau ketemulah sama siapa. Mari kita bahas.

Tokoh-tokoh yang Indonesia Gelap, Indonesia Gelap maksudnya oke, kalau memang Indonesia Gelap mari kita kerja supaya Indonesia tidak gelap, iya kan. Kok Indonesia Gelap, kabur aja deh, kabur aja dulu deh, ya kan. Ini tidak mengatasi

Bagaimana cara agar pertumbuhan ekonomi tidak melambat di tengah pengalihan APBN saat ini?

Dengan pengalihan, akan ada perlambatan. Tapi, nanti akan dikejar. Karena yang kita hemat, tetap kita kucurkan kepada sasaran yang kita inginkan, ya kan. Yang kita hemat itu adalah hal-hal yang kita sudah yakin akan hangus, hangus oleh korupsi-korupsi kecil, menengah, dan besar.

Dalam arti begini, perjalanan dinas ke luar negeri, kalau yang perlu, harus (dihapus). Tapi, saya kirim Menteri Menko Airlangga, kamu ke Washington, kemudian Menteri Keuangan, kamu wakili kita (Indonesia) di G20, itu perlu. Tapi, kalau rombongan pergi untuk studi banding ini, studi banding itu, ya kan? Come on.

Kita bisa hemat berapa puluh triliun loh dari perjalanan dinas saja. Rp 22 triliun kita hemat, iya kan, 22 triliun perjalanan dinas. Bapak tahu untuk perbaikan sekolah, 17.000 sekolah kalau tidak salah itu Rp 19 triliun. Jadi, dengan Rp 22 triliun yang gak ke sana, kita bisa perbaiki 19.000 sekolah lagi

Contoh (lain), saya canangkan bahwa tahun ini kita akan membuka 200 sekolah rakyat berasrama, boarding school dari SD sampai SMA khusus untuk golongan ekonomi yang paling bawah.

Kalau tidak salah desil berapa yang paling bawah itu? 10-11 atau desil 9-10. Ini untuk mematahkan mata rantai kemiskinan. Bapaknya miskin, ibunya miskin, anaknya tidak boleh miskin, apalagi cucunya. Anaknya, kita sekolahkan, keluar, dan dia nanti akan angkat orang tuanya keluar dari kemiskinan.

That is our strategy. We are ambitious. Kita berpikir besar, grand karena Indonesia besar. Kalau kita berpikir kecil, kalau kita berhati kecil, hasilnya tidak (besar). Jadi itu contoh.

Sumber