Warga Tolak RDF Rorotan Beroperasi Lagi, Minta Dipindah ke Tempat Jauh dari Permukiman

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah warga meminta agar Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan, Jakarta Utara, dipindahkan jauh dari permukiman warga.
Pasalnya, keberadaan RDF tersebut sempat menimbulkan bau dan polusi.
"Agar fasilitas RDF ini bisa dipindahkan karena terlalu dekat dengan permukiman warga yang sebelumnya sudah lebih dahulu ada di wilayah ini," ucap warga bernama Christian saat diwawancarai Kompas.com, Kamis (9/4/2025).
Christian mengatakan, sejak operasionalnya dihentikan sementara, RDF Rorotan memang sudah tidak menimbulkan bau lagi. Apalagi, sampah di dalamnya sudah dibersihkan.
Namun, ia keberatan apabila pabrik sampah tersebut kembali beroperasi.
Warga lain bernama Viant juga berharap agar RDF Rorotan bisa dipindah ke tempat lain.
Meski pengelola mengeklaim operasional RDF tersebut tak akan menimbulkan bau lagi, Viant tetap khawatir RDF Rorotan menghasilkan residu yang berbahaya bagi kesehatan warga sekitar.
"Harapannya dipindah sih," tutur Viant.
Ketua RT 18 RW 14 Perumahan Jakarta Garden City (JGC) Klaster Shinano, Wahyu Andre, juga menilai, penempatan RDF di tengah permukiman warga kurang tepat.
"Penempatan pabrik RDF di tengah permukiman warga sangat tidak layak dan membahayakan kesehatan dan bahkan bisa mengancam jiwa warga," jelas Wahyu.
Diberitakan sebelumnya, RDF Rorotan, Jakarta Utara, ditargetkan beroperasi kembali akhir Juli 2025.
"Kami berharap sekitar bulan Juli sudah siap, sudah rapi diharapkan," ucap Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Jakarta Asep Kuswanto saat diwawancarai di RDF Rorotan, Selasa (25/3/2025).
Untuk kembali mengoperasikan RDF, Dinas LH akan menambah beberapa fasilitas. Salah satunya, penambahan deodorizer yang merupakan alat atau zat penghilang bau.
Namun, untuk menambah deodorizer tersebut Dinas LH masih membutuhkan waktu.
"Memang kami butuh waktu untuk penambahan fasilitas, mudah-mudahan di bulan Juli," pungkas Asep.
Sebelumnya, RDF Rorotan melakukan uji coba pengelolaan sampah. Namun, uji coba itu justru mengundang protes warga.
Pasalnya, uji coba pengelolaan sampah yang dilakukan di RDF Rorotan menimbulkan bau busuk dan polusi asap hitam yang menyebar ke perumahan warga.
Bahkan, ada sekitar 11 anak terkena ISPA dan tiganya lagi mengalami infeksi mata akibat RDF Rorotan.



