BBM Diduga Oplosan di Samarinda, Warga: Saya Isi Pertalite, tapi...

BBM Diduga Oplosan di Samarinda, Warga: Saya Isi Pertalite, tapi...

SAMARINDA, KOMPAS.com - Kasus dugaan bahan bakar minyak (BBM) oplosan di Samarinda terus menjadi sorotan publik.

Meskipun isu ini mencuat dua pekan terakhir, belum ada kejelasan yang memadai untuk meredakan keresahan warga.

Salah satu warga, Rendi (27), yang tinggal di Jalan Juanda, mengaku motornya mengalami masalah serius setelah mengisi Pertalite di SPBU pada awal bulan April.

Ia awalnya mengira masalah tersebut disebabkan oleh busi atau karburator, namun setelah dibawa ke bengkel, teknisi menemukan endapan kotor di filter BBM motornya.

“Padahal saya isi di SPBU besar, bukan pom mini. Baru dua hari dipakai, motor langsung brebet dan mogok pas di tanjakan. Pas dibongkar, filter bensinnya kayak penuh lumpur. Mekanik bilang ini kayak bensin kotor,” ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (9/4/2025).

Keluhan serupa juga disampaikan oleh Diah (34), seorang pengemudi ojek online, yang harus membatalkan pesanan pelanggan karena motornya mati mendadak.

“Rugi saya, pelanggan komplain, saya juga harus keluar duit ke bengkel. Saya isi Pertalite, tapi kayaknya isinya dicampur entah apa. Bukan saya saja, banyak teman driver juga ngalamin,” kata Diah.

Namun, pernyataan resmi dari Pertamina dan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, menyatakan sebaliknya.

Dalam inspeksi mendadak yang dilakukan beberapa hari sebelumnya, Rudy menegaskan bahwa BBM di SPBU tidak bermasalah.

“BBM aman, tidak ada pencampuran. Masyarakat tak perlu khawatir,” katanya.

Pertamina juga mengeklaim telah melakukan pengecekan dan tidak menemukan indikasi pencampuran atau oplosan dalam produk BBM mereka.

Wali Kota Samarinda, Andi Harun, memilih untuk bersikap lebih hati-hati dan tidak terburu-buru dalam menyimpulkan.

Ia mempertanyakan kevalidan klaim yang menyatakan BBM aman, mengingat banyaknya kendaraan yang rusak di bengkel dengan gejala serupa.

“Saya pelajari semua pihak yang turun, termasuk masyarakat, sampai saat ini belum ada jawaban yang pasti. Saya tidak ingin menambah kekeruhan, turun tapi tidak memberi kepastian,” jelasnya.

Andi Harun juga menekankan bahwa pernyataan seperti “BBM tidak bermasalah” seharusnya tidak dilontarkan sembarangan, terutama oleh pihak yang tidak memiliki kapasitas teknis untuk menyimpulkan.

“Kita harus menahan diri untuk membuat kesimpulan seperti itu, karena kita bukan ahlinya. Apalagi kalau melihat fakta di lapangan di mana bengkel-bengkel penuh dengan kendaraan rusak, dan teknisinya menyebut filter BBM kotor dan bermasalah,” tambahnya.

Lebih lanjut, Andi Harun menjelaskan bahwa istilah “oplosan” tidak selalu berarti BBM dicampur air.

Hal itu juga bisa terjadi akibat pencampuran antar jenis BBM, seperti Pertalite dengan Pertamax, yang memiliki kadar oktan berbeda.

“Kalau harga Pertamax Rp 12.000 dan Pertalite Rp 10.000, ada selisih. Kalau dikalikan jutaan liter, itu jadi insentif tersendiri bagi oknum. Jadi bisa saja oplosan antar BBM ini yang menyebabkan efek brebet atau penurunan performa mesin,” ujarnya.

Andi Harun menegaskan bahwa penyelesaian masalah ini tidak bisa dilakukan hanya dengan pengamatan visual, tetapi harus melalui uji laboratorium yang independen dan kredibel.

Ia juga menekankan pentingnya sikap netral pemerintah, yang tidak terkesan membela pengusaha, terutama jika masyarakat dirugikan.

“Pemerintah tidak boleh terkesan membela pengusaha. Kalau pengusaha salah, kita harus berani katakan kalau pengusaha salah. Kita harus bilang masyarakat benar karena peristiwa ini anomali,” tegasnya.

Dalam waktu dekat, Andi Harun berencana mengambil sampel dari berbagai titik, termasuk dari SPBU, kendaraan warga yang rusak, hingga pom mini, untuk diuji secara obyektif.

“Kepala daerah tidak boleh asal menyimpulkan. Yang paling bijak adalah ambil sampel dari SPBU, dari kendaraan yang rusak di bengkel, juga dari pom mini. Lalu uji di laboratorium yang kredibel. Setelah ada hasil, baru kita umumkan secara obyektif,” tandasnya.

Sementara itu, keresahan warga terus meningkat seiring belum adanya langkah tegas dari pihak-pihak berwenang.

Bengkel-bengkel di Samarinda melaporkan kewalahan menerima pelanggan dengan keluhan serupa, seperti motor brebet, mogok, atau bahkan tidak bisa menyala setelah pengisian BBM.

Sumber