Berhasil Panen Raya di Sawah yang Sering Terendam Banjir, Petani Kulon Progo Berharap Normalisasi Sungai

Berhasil Panen Raya di Sawah yang Sering Terendam Banjir, Petani Kulon Progo Berharap Normalisasi Sungai

KULON PROGO, KOMPAS.com – Ratusan hektare sawah di bulak Rawa Jembangan, Padukuhan Klipuh, Kalurahan Gulurejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, tengah memasuki masa panen raya.

Panen ini menjadi istimewa karena berhasil terwujud meski sebelumnya sempat terancam gagal akibat banjir dari Sungai Papak, yang membelah kawasan sawah.

“Semua akan panen, seluas 115,16 hektare ini. Semua ini telah dikerjakan masyarakat tani di Klipuh ini,” ujar Slamet Riyanto, Ketua Gapoktan Sedyo Makmur di Gulurejo, Kamis (10/4/2025).

Mayoritas warga Klipuh bekerja sebagai petani. Sawah mereka berada di dataran rendah, mengandalkan irigasi dari Sungai Papak, sebagian lagi dari air hujan dan mata air di dusun atas.

Namun saat musim hujan, para petani kerap waswas karena Sungai Papak yang dangkal dan menyempit kerap meluap, menyebabkan banjir.

“Banjir terakhir itu belum lama (Maret). Tapi, air pas di bawah padi. Jadi aman. Tapi kalau waktu itu sampai padi tenggelam, padi bisa tukul (rontok),” kata Slamet.

Slamet sendiri mengelola sawah seluas 2.100 meter persegi, dan bisa menghasilkan hingga 1,7 ton gabah di musim panen.

 

Ia merasa diuntungkan dengan harga gabah dari Bulog yang mencapai Rp 6.500 per kilogram.

Namun, ia juga mengaku pernah mengalami kerugian hingga Rp 2 juta karena gagal panen akibat sawah tergenang air.

Sungai Papak terakhir kali dinormalisasi pada 1991. Kini, sungai tersebut mengalami penyempitan dari 12 meter menjadi hanya 2 meter, menyebabkan rawan genangan.

Lurah Gulurejo, Beja, berharap normalisasi bisa segera dilakukan agar petani tidak terus dilanda kekhawatiran setiap musim hujan.

“Genangan terakhir berupa sungai,” kata Beja dalam sambutan acara adat wiwitan, tanda syukur atas panen.

Tinjauan bersama dengan BBWSO menunjukkan bahwa normalisasi bisa dilakukan sepanjang 4 kilometer, mengingat dampaknya terhadap jembatan, bendungan, dan jalan kabupaten yang juga sudah tidak layak. Selain itu, jalan usaha tani pun sangat dibutuhkan.

Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, menyatakan optimisme terhadap kemandirian pangan wilayahnya, terlihat dari banyaknya panen raya.

“Kita masih cukup menyangga kebutuhan pangan Kulon Progo bahkan surplus untuk memberi kontribusi ke daerah sekitarnya,” kata Agung.

Namun, ia menekankan pentingnya penanganan cepat terhadap lahan-lahan pertanian yang terancam banjir, sembari menyebutkan bahwa koordinasi dengan BBWSO dan Pemda DIY sudah berlangsung selama tiga tahun terakhir.

Dari Pemerintah DIY, Tri Saktiyana, Asisten Sekda Bidang Pemerintahan dan Pembangunan, menyampaikan pesan Sri Sultan Hamengkubuwono X mengenai pentingnya strategi tata air dan pendekatan teknis-partisipatif.

“Saat air menggenang, bukan hanya panen yang hilang namun juga penghidupan dan masa depan… Harus ada perhatian khusus,” ucap Tri saat membacakan sambutan gubernur.

Slamet, mewakili petani, menyambut baik komitmen pemerintah dan berharap agar program normalisasi sungai benar-benar direalisasikan.

“Kami mengharapkan benar bisa realisasi (normalisasi). Katanya dari desa lho, sudah dua tahun diajukan, tapi belum terwujud juga,” ujar Slamet.

 

Sumber