Kemunculan Buaya di Berau Meningkat Usai Banjir, Kenali Tanda Adanya Buaya

BERAU, KOMPAS.com – Kemunculan buaya di wilayah permukiman Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, kembali terjadi seiring meningkatnya intensitas hujan dan meluapnya sungai.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau mencatat, sedikitnya tujuh laporan kemunculan buaya diterima sejak awal Januari hingga awal April 2025, termasuk satu kasus serangan terhadap warga.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan buaya muncul
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Berau, Nofian Hidayat mengatakan, kemunculan buaya kerap terjadi saat banjir karena habitatnya terganggu.
Debit air yang tinggi membuat buaya berpindah dari tempat asalnya ke wilayah yang lebih dangkal, bahkan hingga ke pemukiman penduduk.
“Buaya muncul itu karena habitatnya terganggu, bisa karena aktivitas manusia maupun karena kondisi banjir. Saat banjir, buaya lebih mudah bergerak karena air melimpah. Kadang dia ikut arus dan masuk ke pemukiman,” ujar Nofian kepada Kompas.com, Senin (7/4/2025).
Selain faktor alam, Nofian juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang kerap membuang limbah organik seperti bangkai ayam atau sisa ikan ke sungai.
Menurutnya, perilaku ini membuat buaya terbiasa mengaitkan pemukiman dengan sumber makanan.
“Kalau buaya sudah terbiasa dapat makanan dari limbah warga, dia akan balik lagi. Makanya kami selalu ingatkan agar tidak buang bangkai atau limbah dapur ke sungai. Termasuk juga kandang ayam dekat sungai, itu bisa jadi pemicu,” jelasnya.
Ia mengungkapkan bahwa fenomena ini bukan semata-mata karena buayanya yang menyerang, tetapi karena manusia yang semakin mendekati wilayah hidup satwa liar.
Penataan ruang yang kurang tertib membuat banyak pemukiman berada di bantaran sungai, yang sejatinya merupakan zona rawan dan tidak direkomendasikan untuk pembangunan.
BPBD Berau juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di sungai.
Nofian menyarankan penggunaan pelampung saat naik perahu, serta menghindari berenang atau mandi di sungai yang sepi dan berair keruh.
“Kalau mau turun ke sungai, sebaiknya tidak sendiri. Kalau pun harus sendiri, jangan langsung nyebur. Tepuk-tepuk air dulu, itu cara paling sederhana untuk mengusir buaya yang mungkin bersembunyi,” ujarnya.
Ia juga menyarankan agar masyarakat mengenali tanda-tanda keberadaan buaya, seperti jejak di pinggiran sungai atau air yang tampak beriak tidak wajar.
Jika terlanjur diserang, Nofian menyarankan agar korban sebisa mungkin menyerang bagian mata buaya yang merupakan titik lemahnya, lalu segera naik ke darat.
Hingga awal April 2025, kasus paling tragis terjadi di kawasan WBD (Wilayah Bebas Darurat), di mana seorang warga diduga diseret buaya dan belum ditemukan hingga kini.
“Sudah empat kali tim turun menyusuri area itu, tapi belum ada hasil. Kita masih terus cari, tapi ini jadi pengingat keras buat kita semua,” katanya.
Lebih lanjut, BPBD juga mendorong pelaku usaha agar bertanggung jawab dalam pengelolaan limbah, terutama yang berlokasi di dekat sungai.
Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara masyarakat dan dunia usaha sangat dibutuhkan untuk mencegah konflik antara manusia dan satwa liar.
“Kita harus jaga ekosistem sungai bersama. Jangan sampai karena ulah segelintir orang, banyak yang jadi korban. Edukasi harus terus kita lakukan,” pungkas Nofian.
